Oktober 3, 2022

Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak terutama sapi masih menjadi ancaman serius bagi para peternak sapi di Tanah Air. Namun sejumlah peternak sapi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, berhasil menemukan formula untuk mengobati sapi sapi yang sakit karena terduga terpapar virus PMK. Para peternak sapi Sumedang menyembuhkan sapi sapi yang sakit PMK dengan menggunakan ramuan jamu.

Kabarnya, tingkat kesembuhan sapi sapi mencapai 98 persen setelah sapi sapi yang sakit diberi ramuan jamu. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengapreasiasi inisiatif para peternak tersebut. Ketika bertandang ke Cemerlang Jaya Makmur (CJM) Farm Tanjungsari di Sumedang, Sabtu (2/7/2022) sore, Mentan memberikan kesempatan kepada peternak untuk menceritakan tentang metode pengobatan tradisional mereka.

"Ini sudah bagus, silakan petaninya sendiri yang berbicara. Yang jelas intervensi kita untuk menghadirkan obat obatan, vaksin, sekaligus dokter dokternya sudah maksimal," kata Mentan. Dio Wicaksono Adi, pemilik CJM Farm mengatakan bahwa sapi sapinya telah diinjeksi dan selalu mendapat pengawasan para dokter. Namun, di samping itu dia meramu sendiri jamu untuk pengobatan luka. "Untuk mulut kami gunakan jamu berupa campuran gula merah, bawang putih, dan larutan penyegar," katanya.

Jamu itu bekerja dengan baik. Untuk penyembuhan luka luka pada kaki, dia menggunakan rebusan air tembakau dicampur citrun. "Sembuh sangat cepat. Ternak kami 98 persen sembuh, terselamatkan," kata dia. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir mengatakan di tempat yang sama, bahwa Pemerintah Kabupaten Sumedang telah membentuk satgas penanganan PMK. "Kami secara serius menangani persoalan PMK ini. Kami sudah ada Satgas, juga kami telah terjunkan 17 dokter hewan yang sejak awal PMK merebak sudah giat berkeliling ke seluruh penjuru Sumedang," katanya.

Wabah Meluas Wabah PMK menyebar di sejumlah wilayah di Tanah Air. Peternak sapi di Desa Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat, merugi Rp 100 juta akibat 5 ekor sapi program ketahanan pangan warga mati. Kelima sapi tersebut mati karena diduga tertular penyakit mulut dan kuku (PMK).

Sekretaris Desa Ciranjang, Irfan Ubaedillah, mengatakan awal mula program ketahanan pangan Desa Ciranjang menganggarkan Rp 320 juta membeli 16 ekor sapi. Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menetapkan Status Keadaan Tertentu Darurat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak melalui Surat Keputusan Kepala BNPB Nomor 47 Tahun 2022. Dikutip dari BNPB, saat penetapan Status Keadaan Tertentu Darurat PMK pada hewan ternak tersebut, angka penularan PMK per Jumat (1/7/2022) pukul 12.00 WIB telah mencapai 233.370 kasus aktif.

“Jumlah kasus tersebut tersebar di 246 wilayah kabupaten/kota di 22 provinsi, menurut data dari Isikhnas Kementan,” ujar Plt Kapusdatin BNPB, Abdul Muhari, Sabtu, (2/7/2022). Lima provinsi dengan kasus PMK tertinggi adalah Jawa Timur 133.460 kasus, Nusa Tenggara Barat 48.246 kasus. Jawa Tengah 33.178 kasus, Aceh 32.330 kasus dan Jawa Barat 32.178 kasus.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan PMK, jumlah total akumulasi kasus meliputi 312.053 ekor hewan ternak yang sakit. Dari jumlah tersebut 73.119 ekor hewan ternak dinyatakan sembuh. “Sementara 3.839 ekor hewan ternak dipotong bersyarat dan sebanyak 1.726 ekor hewan ternak mati karena PMK,” katanya.

Sebagai bentuk upaya penanganan darurat wabah PMK, pemerintah terus meningkatkan percepatan pelaksanaan vaksinasi untuk hewan ternak guna meningkatkan kekebalan dan mencegah terjadinya kematian. “Jumlah hewan ternak yang telah divaksin telah mencapai 169.782 ekor,” ujarnya. Vaksinasi

Untuk mencegah meluasnya penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak sapi, program vaksinasi akan digencarkan. Vaksinasi terhadap minimal 70 persen dari jumlah populasi sapi harus segera diselesaikan atau berjumlah 12,6 juta ekor sapi. “Populasi sapi di Indonesia saat ini sekitar 18 juta ekor. Maka, untuk mengejar herd immunity, paling tidak 70 persen sapi dari populasi harus sudah divaksin,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dikutip dari kemenkopmk.go.id, Jumat (24/6/2022).

Muhadjir meminta proses vaksinasi dipercepat dengan prioritas di daerah yang sudah terpapar PMK. Di sisi lain, pemerintah akan terus berusaha menyediakan dosis vaksin. "Kita tidak bisa menunggu terlalu lama untuk mencegah penyebarannya,” kata Muhadjir. Peternak pasti mengalami kerugian, karena hewan ternak yang terkonfirmasi mengidap PMK harus dimusnahkan.

Untuk meringankan beban tersebut, pemerintah memutuskan memberikan biaya pengganti Rp 10 juta per ekor sapi. Kabar baik lainnya, Presiden Joko Widodo telah menyetujui pengadaan 29 juta dosis vaksin PMK. Seluruhnya menggunakan anggaran dari Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN). Selain itu, Presiden juga meminta jajaran kementerian terkait untuk terus menyiapkan obat obatan PMK, menambah vaksinator, dan menyusun sistem pencegahan. Orang orang yang keluar masuk peternakan jangan sampai menjadi pembawa virus.

Penulis: Kiki Andriana/Willy Widianto | Sebagian artikel ini bersumber dari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.